POLA TANAM BAWANG PUTIH YANG ADAPTIF TERHADAP VARIABILITAS DAN PERUBAHAN IKLIM

1.Abstract

Variabilitas dan perubahan iklim sebagai akibat pemanasan global (global warming) merupakan salah satu tantangan terpenting pada saat ini. Perubahan iklim merupakan perubahan pola dan intensitas dari unsur iklim untuk periode waktu tertentu (Aldrian et al. 2011). Perubahan iklim yang saat ini diyakini terjadi disebabkan oleh pemanasan global dimana terdapat peningkatan gas rumah kaca di atmosfer. Menurut laporan IPCC Kenaikan suhu muka bumi rata- rata terjadi antara selang 0.50C pada belahan bumi selatan sampai 20C pada belahan bumi utara (IPCC 2008). Tentu saja peningkatan suhu permukaan bumi tersebut mengakibatkan perubahan iklim di berbagai tempat, termasuk di Indonesia. Variabilitas iklim di Indonesia juga sangat erat kaitannya dengan gejala ENSO (El Ni�o Southern Oscillation) di Samudera Pasifik (Trenberth et al. 1995, Kirono & Khakim 1999; Naylor et al. 2002) dan IOD (Indian Ocean Dipole) di Samudera Hindia (Saji et al. 1999;Webster et al. 1999; Ashok et al. 2001; Mulyana 2001, Jourdain et al. 2013).
Perubahan iklim yang ditandai oleh perubahan pola dan distribusi curah hujan, peningkatan suhu udara, dan peningkatan muka air laut berdampak langsung terhadap kerentanan pertanian diwilayah tertentu (Badan Litbang Pertanian, 2012) Perubahan iklim telah membuat sebaran hujan tidak merata bahkan curah hujan harian ekstrim dapat mencapai 234 mm/hari (Farmanta, 2012). Terjadinya perubahan iklim akan berdampak pada pergeseran musim, yakni semakin singkatnya musim hujan namun dengan curah hujan yang lebih besar. Panjang pendeknya periode hujan dan kemarau tersebut kemudian berdasarkan fenomena perubahan iklim juga mengalami perubahan memendek atau dan memanjang akibat fenomena El-Nino dan La-Nina. Perubahan musim terkait panjang pendek nya musim di Indonesia akibat perubahan iklim tentu saja akan sangat berdampak pada sektor pertanian terutama terkait dengan penyesuaian pola tanam petani dalam berbudidaya.
Salah satu komoditas pertanian yang dikhawatirkan akan terganggu pola tanam nya akibat variabilitas dan perubahan iklim yang terjadi saat ini yakni pertanian bawang putih. Bawang putih (Allium sativum L.) adalah tanaman semusim berumpun yang mempunyai ketinggian sekitar 60 cm, merupakan salah satu sayuran penting dunia dan termasuk dalam genus Allium, famili Liliaceae. Tanaman ini banyak ditanam di ladang-ladang daerah pegunungan yang cukup mendapat sinar matahari (Syamsiah dan Tajudin 2003). Salah satu daerah penyebaran bawang putih di Indonesia yaitu berada di pulau Lombok, tepatnya di daerah dataran tinggi di Kecamatan Sembalun, Nusa Tenggara Barat. Daerah Sembalun berada di wilayah kaki Gunung Rinjani (3.726 mdpl) berketinggian 800 mdpl-1.250 mdpl. Daerah ini juga termasuk salah satu wilayah yang dipilih pemerintah untuk dijadikan lokasi Swasembada pertanian bawang putih di Indonesia (Kementan, 2017). Di daerah ini terdapat 5 dari 6 desa yang menjadi sentra budidaya pertanian bawang putih yakni Desa Sembalun Bumbung, Desa Sembalun Lawang, Desa Sajang, Desa Sembalun dan Desa Timba Gading. Jenis varietas bawang putih yang di budidayakan di Kecamatan Sembalun adalah varietas jenis Sangga karena jenis varietas Sangga inilah yang memang secara aspek syarat tumbuh terkait ketinggian tempat dan faktor iklim yang paling cocok dibudidayakan di daerah Sembalun.
Spesifikasi lingkungan fisik (iklim, tanah, dan topografi) di Kecamatan Sembalun memang cocok untuk mengembangkan budidaya pertanian bawang putih. Secara ketinggian tempat, budidaya bawang putih sangat cocok ditanam pada wilayah yang memilikki ketinggian tempat yakni 600 � 1.100 mdpl sedangkan secara klimatologi, suhu yang cocok untuk budidaya bawang putih di dataran tinggi berkisar antara 20�25?C suhu yang terlalu tinggi dari kisaran tersebut dapat meyebabkan pertumbuhan tunas terhenti atau umbi dalam keadaan istrahat (dorman). Demikian pula pada suhu yang terlaku rendah (dibawah 15 �C) dapat menyebabkan pertumbuhan tunas terhambat. Sedangkan curah hujan yang cocok untuk budidaya bawan putih yakni 1.200mm � 2.400mm/tahun. Curah hujan tersebut sangat cocok untuk pertumbuhan dan pembentukan hasil varietas bawang putih.
Curah hujan yang tinggi melebihi kisaran tersebut dapat menyebabkan kerusakan pada tanaman bawang putih, terutama pada bagian daun nya sehingga menyebabkan pertumbuhan tanaman terlambat dan umbinya juga akan mengalami kerusakan. Genangan air akibat curah hujan yang tinggi juga akan menyebabkan umbi bawang putih membusuk. Hal ini sesuai dengan pernyataan (Hilman 1997) tanaman bawang putih kurang baik ditanam pada musim penghujan karena kondisi tanah terlalu basah, sehingga mempersulit pembentukan siung. Seperti yang terlihat dilapangan, dari hasil wawancara dan studi lapang (survey awal), kondisi pertumbuhan bawang putih saat ditanaman pada musim hujan akan menyebabkan kerusakan pada daun dan umbi yang membusuk akibat terlau banyak menerima air. Sesuai dengan pernyataan (Bambang 2012) bahwa keberhasilan kegiatan pertanian dalam mencapai hasil panen yang maksimal bukan hanya dipengaruhi oleh bibit yang unggul, irigasi yang baik tetapi sektor pertanian juga sangat bergantung pada kondisi iklim dan musim.
Dengan kondisi iklim yang tidak stabil, maka tentu saja akan berdampak pada produktivitas pertanian bawang putih tersebut. Sehingga perlu adanya langkah-langkah adaptif masyarakat Sembalun terhadap ancaman variabilitas dan perubahan iklim yang sewaktu-waktu dapat mengancam sektor budidaya bawang putih. Kondisi budidaya bawang putih yang sangat rentan dari segi iklim akibat dari variabilitas dan perubahan iklim dengan perubahan musim dan curah hujan yang mempengaruhi waktu tanam. Bercermin dari kondisi tersebut maka akan sangat diperlukannya informasi-informasi terkait kondisi iklim secara historis dan dimasa depan (proyeksi iklim) sehingga para petani bawang putih bisa menjadikan informasi iklim tersebut sebagai acuan petani dalam melakukan budidaya bawang putih sebagai bentuk melakukan sikap adaptif untuk penyesuaian kegiatan usahataninya dengan kondisi iklim yang dihadapi dimasa depan.
Berdasarkan uraian-uraian latar belakang diatas, pada penelitian ini akan melakukan analisis variabilitas dan perubahan iklim yang akan dikaitkan dengan penentuan awal musim, lamanya hujan, intensitas curah hujan, periode curah hujan dan suhu yang didasarkan pada hasil analisis data iklim historis dan proyeksi selama 30 tahun yang diharapkan bisa menggambarkan kondisi iklim di wilayah Sembalun. Dari hasil analisis data iklim historis dan proyeksi yang dikombinasikan dengan hasil kuesioner berupa data kualitatif dan kauntitatif yang diharapkan bisa memberikan gambaran langkah-langkah adaptasi apa saja yang telah dilakukan dan yang akan dilakukan petani bawang putih dalam menyikapi tren variabilitas dan perubahan iklim di wilayah kajian.
Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis awal musim pada periode baseline dan proyeksi, serta perubahan suhu yang terjadi dan Sembalun yang merupakan salah satu sentra produksi bawang putih di Indonesia. Tujuan lainnya adalah Dari hasil analisis data iklim historis dan proyeksi yang dikombinasikan dengan hasil kuesioner berupa data kualitatif dan kauntitatif yang diharapkan bisa memberikan gambaran langkah-langkah adaptasi apa saja yang telah dilakukan dan yang akan dilakukan petani bawang putih dalam menyikapi tren variabilitas dan perubahan iklim di wilayah Periode waktu yang digunakan adalah periode 1970 � 2010 (30 tahun) sebagai periode baseline dan periode 2011 � 2040 (30 tahun) yang merupakan proyeksi ke depan. Penentuan awal musim pada penelitian ini menggunakan kriteria curah hujan dasarian Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

2.Keywords
Bawang Putih, Curah Hujan, Suhu, Proyeksi Pola Tanam
3.Objective

1. Menganalisis data iklim historis 30 tahun yang lalu dan menganalisis data iklim 30 tahun yang akan datang yang bisa terkait dengan variabilitas perubahan iklim yang terjadi terkait dengan kenaikan suhu, intensitas dan lama hujan.
2. Bagaimana cara menangani hal-hal/adaptasi yang terkait dengan dampak perubahan iklim terhadap sektor pertanian sehingga para petani bawang putih bisa mengambil tindakan dengan cermat untuk menetukan kapan akan memulai proses budidaya bawang putih sesuai dengan keadaan iklim setempat.
3. Menganalisis hubungan persepsi dengan tindakan adaptsi para petani bawang putih terhadap variabilitas dan perubahan

4.Methodology

Lokasi dan waktu penelitian

Penelitian ini dilakasanakan di Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat sebagai lokasi studi. Adapun pemilihan lokasi penelitian dilakukan dengan pertimbangan karena daerah tersebut merupakan sentra pertanian bawang putih di kabupaten Lombok Timur. Dimana daerah titik penelitian yaitu Desa Sembalun Bumbung, Desa Sembalun Lawang, Desa Sajang, Desa Sembalun Timba Gading, Desa Sembalun, Desa Sembalun Bumbung. Pemilihan lokasi penelitian ini didasarkan pada pertimbangan bahwa daerah tersebut merupakan sentra pertanian bawang putih di kabupaten Lombok Timur dan dipilih pemerintah sebagai salah satu lokasi program swasembada bawang putih di Indinesia selain di pulau Jawa dan Sumatra. Waktu penelitian ini dimulai pada bulan November 2018 sampai selesai. Analisis data iklim akan dilakukan di Pusat Inovasi LIPI, Jln Raya Jakarta-Bogor KM 47, Cibinong � Bogor. Waktu penelitian ini dimulai pada bulan November 2018 sampai selesai.


Lokasi Studi

Rencana lokasi penelitian ini adalah Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Dimana wilayah ini adalah salah satu sentra lokasi penanaman bawang putih di Kabupaten Lombok Timur. Dimana Suhu yang cocok untuk penanaman adalah sekitar 15-25�C, sehingga lokasi yang paling cocok di Indonesia yang paling cocok untuk menanam bawang putih adalah di daerah dataran tinggi yaitu sekitar 600 - 1200 meter diatas permukaan laut. Ini sangat sesuai dengan spesifikasi wilayah dari daerah Sembalun yang berada di wilayah kaki Gunung Rinjani (3.726 mdpl) itu meliputi enam desa, berudara sejuk, berketinggian 800 mdpl-1.250 mdpl.


Bahan Penelitian
Jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari wawancara langsung dan kuisioner berdasarkan pertanyaan yang sudah dibuat dengan responden (petani bawang putih). Sedangkan data sekunder yg akan digunakan dapat diperoleh melalui citra satelit (data suhu, curah hujan untuk iklim historis dan proyeksi), data Observasi/TRRM yang digunakan sebagai komparasi hasil dari hasil downscalling serta data produktivitas pertanian bawang putih yang diperoleh dari berbagai sumber instansi terkait seperti: Dinas Pertanian, Badan Pusat Statistik daerah setempat. Data-data ini digunakan untuk bias mengetahui pola pertanian bawang putih yang adaptif terhadap variabilitas dan perubahan iklim di Sembalun.


Alat
Alat peraga berupa gambar variabilitas iklim di pulau Lombok terkait curah hujan dan suhu dan gambaran umum terkait informasi perubahan iklim.


Metode Penentuan Sampel

Menurut Sugiyono (2008 : 81), sampel adalah bagian dari jumlah dan
karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Sampel yang diambil dari
populasi harus representative. Untuk responden dalam penelitian ini merupakan petani bawang putih di desa Sembalun yang ditentukan secara sengaja (purposive). Responden yang dipilih merupakan petani bawang putih di 5 Desa di Kecamatan yakni Desa Sembalun Bumbung, Desa Sembalun Lawang, Desa Timba Gading, Desa Sembalun, dan Desa Sajang. Untuk masing-masing Desa akan diambil responden sebanyak 20 orang.


Metode Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan terdiri atas dua macam yaitu data primer dan data sekunder. Data primer berasal dari petani contoh diperoleh melalui observasi,wawancara langsung dan menggunakan kuisioner berdasarkan daftar pertanyaan yang telah disiapkan. Data primer meliputi pengetahuan petani bawang putih mengenai perubahan iklim, bagaimana adaptasi budidaya bawang putih terhadap perubahan iklim, faktor-faktor apa yang mempengaruhi petani dalam beradaptasi. Keseluruhan data primer tersebut dikumpulkan dengan cara wawancara langsung menggunakan kuesioner. Jenis kuisioner yang digunakan adalah jenis kuisioner semiterbuka. Pada angket ini, responden menjawab pertanyaan dengan jawabannya telah tersedia, namun responden masih diberikan kebebasan untuk menambahkan jawaban. Kuesioner yang digunakan (Lampiran 1 dan tabel 3).
Adapun variabel dan parameter kuisioner yang akan dipakai pada penelitian ini, antara lain:
Tingktat pengetahuan: Pengetahuan petani tentang perubahan iklim
Pengertian perubahan iklim
Bentuk perubahan iklim yang dirasakan
Dampak perubahan iklim pada sektor pertanian
sumber informasi perubahan iklim
pembacaan iklim berdasarkan pengetahuan lokal
Adaptasi terhadap perubahan iklim: Perubahan cara / perilaku dalam bertani sejak awal hingga saat ini.
Perubahan waktu tanam
Perubahan pola tanam
Perubahan teknologi pengairan/irigasi dan drainase
Perubahan teknologi pengelolaan tanah,
Kegagalan dalam bertani
komoditas yang dibudidayakan
Faktor-faktor yang mempengaruhi petani dalam beradaptasi:
Sumber daya manusia (usia, lama pengalaman bertani, keikutsertaan dalam diklat/pelatihan pertanian, tingkat pendidikan formal terakhir.
Sumber daya Sosial (ketersediaan kelompok tani, tingkat aktivitas kelompok tani, keikutsertaan dalam kelompok tani
Sumber daya ekonomi (luas lahan garapan, status kepemilikan lahan garapan dan jumlah tanggungan keluarga)
Insitusional (sumber dan frekuensi dalam memperoleh informasi tentang pertanian, sumber dan frekuensi dalam memperoleh informasi dan pelayanan kredit usaha)
Infrastruktur (jarak pasar input pertanian: sumber bibit, pengadaan teknologi dan jarah pasar input pertanian: hasil panen)
Sedangkan data sekunder meliputi kondisi umum daerah penelitian (iklim terkait suhu dan curah hujan ). Data primer dan sekunder diperlukan untuk menjawab permasalahan serta untuk mencapai tujuan penelitian ini. Selain itu, pengumpulan data juga di peroleh dari instansi-instansi yang terkait, seperti: Dinas Pertanian, Badan Pusat Statistik serta literatur-literatur dan penelitian seperti jurnal, buku, internet, dan lain-lain. Data primer dan sekunder diperlukan untuk menjawab permasalahan serta untuk mencapai tujuan penelitian ini.


Metode Penentuan Perubahan Awal Musim, Panjang Musim, Perubahan Pola Hujan dan Suhu

Dalam metode ini bisa melakukan penentuan awal musim terkait: panjang musim (hujan/kemarau), intensitas curah hujan, dan suhu berdasarkan hasil analisa data historis dan proyeksi. Untuk penentuan awal musim berpedoman pada Buku Prakiraan Musim (BMKG 2014) dijelaskan bahwa Jumlah curah hujan dalam satu dasarian (rentang waktu selama 10 hari) lebih dari 50 mm dan diikuti oleh beberapa dasarian berikutnya maka dasarian pertama ditetapkan sebagai awal musim hujan ditetapkan sebagai awal musim hujan yang biasa disingkat AMH. Sedangkan untuk musim kemarau jumlah curah hujan dalam satu dasarian kurang dari 50 mm dan diikuti oleh beberapa dasarian berikutnya ditetapkan sebagai awal musim kemarau yang biasa disingkat AMK. Kriteria batasan hujan 50 mm/dasarian atau 150 mm/bulan untuk musim hujan.


Tabel 2 Ilustrasi Data Curah Hujan Dasarian X dan Y Selama 5 Tahun
Tahun Dasarian X (mm) Dasarian Y (mm)
Ke-1 35 55
Ke-2 45 61
Ke-3 47 0
Ke-4 110 52
Ke-5 45 59
Rata-rata 56,5 45,5

Penetapan periode tersebut dengan merataratakan curah hujan pada masing-masing dasarian selama 30 tahun. Hasil rata-rata curah hujan masing-masing dasarian tersebut kemudian dinyatakan sebagai nilai normal yang dalam konteks penentuan awal musim disebut sebagai normal musim karena menjaditreshold antara musim hujan dan musim kemarau.


Metode Analisis Produktivitas Pertanian
Pada analisis produktivitas ini akan menghitung berapa besar hasil rata-rata produksi bawang putih pertahun. Dari hasil analisis tersebut diharapkan bias memberikan gambaran terkait kenaikan ataupun penurunan dari pertanian bawang putih di lokasi penelitian . Adapun metode perhitungan yang akan digunakan yakni:
Produktivitas =(Jumlah Produksi)/(Luas Lahan)
Ket: Produktivitas = ton/ha

Metode Analisis Hasil Kuisioner
Didalam Penelitian ini menggunakan metode survei, jenis penelitian kuantitatif . Sedangkan dalam menganalisis data menggunakan statistik deskriptif. Statistik deskriptif digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi (Sugiyono, 2008: 147). Proses pengolahan data yang dilakukan adalah :
1. Edit, yaitu kegiatan memeriksa dan meneliti kembali data yang diperoleh dari hasil kuesioner dan wawancara, untuk mengetahui apakah data yang ada sudah cukup dan lengkap ataukah perlu ada pembetulan.
2. Koding, yaitu kegiatan melakukan klasifikasi data dari jawaban responden dengan memberikan kode/simbol serta skor menurut kriteria yang ada. Jawaban setiap item instrumen tersebut menggunakan skala Guttman dalam bentuk pilihan ya dan tidak dengan menambahkan jawaban dari masing-masing responden. Untuk jawaban ya akan di beri skor 2 dan jawaban tidak akan diberi skor 1.
3. Tabulasi, yaitu kegiatan melakukan pengolahan data ke dalam bentuk tabel dengan memproses hitung frekuensi dari masing-masing kategori, baik secara manual maupun dengan bantuan komputer. Untuk proses tabulasi ini akan menggunakan Software SPSS.

Memasukkan skor tersebut ke dalam rumus:
x=n/N�100 %


Ket:
X = Presentase Jawaban Responden
n = Jumlah Responden yang memilih Alternatif Jawaban
N = Jumlah Keseluruhan Responden

Tahap Penarikan Kesimpulan (Verivikasi). Pengambilan kesimpulan juga merupakan analisis lanjutan sehingga data dapat disimpulkan dan peneliti masih berpeluang untuk menerima masukan (Iskandar, 2008:223). Pada tahap ini data yang telah dihubungkan satu dengan yang lain sesuai dengan konfigurasi-konfigurasi lalu ditarik kesimpulan.

Tahapan penelitian:
Langkah pertama adalah melakukan downscaling terhadap data reanalysis untuk mempresentasikan kondisi baseline dan proyeksi iklim di Sembalun. Model yang digunakan adalah MIROC5. Untuk resolusi spasial dalam teknik ini adalah 110 x 110 km, 60 km x 60 km, 30 x 30 km, dan sampai pada 20 x 20 km dengan resolusi temporal 6 jam-an. Baseline dari dari tahun 1970 sampai tahun 2010, dan proyekso model dari tahun 2011 sampai tahun 2040. Model GCM yang digunakan dalam penelitian ini adalah MIROC5 (Model for Interdisciplinary Research On Climate v5). Berdasarkan hasil penelitian (Faqih et al 2015) di NTT, model MIROC5 ini memilikki korelasi model yang tinggi terhadap data observasi.
Langkah kedua adalah melakukan proses running model RegCM. langkah ketiga adalah melakukan pengolahan data keluaran RegCM menggunakan software GRADS. Fungsi dari software tersebut yakni digunakan untuk mengekstrak parameter iklim (seperti; curah hujan, suhu, tekanan udara, kelembaban, medan angin, dan radiasi). Hasil dari olahan data tersebut akan digunakan untuk menganalisis iklim Sembalu terkait lamanya hujan, intensitas dan kenaikan suhu.
Langkah keempat adalah mengakumulasi nilai curah hujan harian menjadi nilai curah hujan bulanan. Nilai curah hujan dasarian inilah yang digunakan untuk melakukan perhitungan awal musim. Langkah kelima adalah melakukan perhitungan awal musim hujan (AMH) di Indonesia menurut BMKG (2014).

2. Analisis perubahan iklim terhadap aspek pertanian di daerah penelitian

Dari hasil proyeksi iklim yang menggambarkan tren suhu dan curah hujan akan dikaitkan dengan hasil kuesioner dan data produksi bawang putih di daerah penelitian. Analisa produktivitas pertanian bawang putih sebagai gambaran umum perubahan yang terjadi pada tingkat produksi budidaya bawang putih. Hasil kuisioner selanjutnya akan dilakukan analisis presentase. Tahap akhir adalah bagaimana tahapan penanganan terkait dengan adaptasi mengenai pola tanam bawang putih kedepan nya berdasarkan hasil pengolahan da analisa data iklim serta hasil kuesioner yang menggambarkan persepsi petani bawang putih terkait sikap adaptif apa yang telah dan akan dilakukan terkait variabilitas dan perubahan iklim yang terjadi.

5.Team

Pembimbing 1: Dr Ir Tania June Msc
pembimbing 2: Dr Ir Impron Msc

6.Computation plan (required processor core hours, data storage, software, etc)

Downscalling Global Climate Model

7.Source of funding
8.Target/outputs
April
9.Date of usage
01/12/2018 - 01/12/2019
10.Gpu usage
use gpu
11.Supporting files
prop_1544525373.pdf
12.Created at
11/12/2018
13.Approval status
approved